• Search
  • Menu
Home » Opini

Pragmatisme: Metode Salah Suntik ke Nadi Barca

oleh: S. Metron Masdison

*Budayawan dan Pecinta Sepak Bola

Jumat, 21-04-2017 • 08:00 WIB
Pragmatisme: Metode Salah Suntik ke Nadi Barca

Tersingkirnya Barcelona dari arena Piala Champions bukanlah mengejutkan. Kita justru terkejut kalau Barca lolos sekali lagi (!) dari lubang jarum. Di mana Tuhan, kalau ada tim sepak bola 'ditolong' karena untuk kedua kalinya masuk lubang? Kalau ini masih menyesakkan, tentu hanya untuk fansnya (termasuk saya).

Blaugrana adalah impian sepak bola abad 21. Brazil-nya Pele menemukan tubuh baru. Dengan segala versi dan variannya. Apa yang dikatakan Bruce Lee, menyerang adalah pertahanan terbaik, direalisasikan amat sempurna. Bahkan, sejak Johan Cryuff mengatakan sepak bola berbicara tentang kesederhanaan dan betapa rumitnya itu dipraktikkan.

Di era Franklin Edmundo Rijkaard dan Josep Guardiola i Sala semuanya terwujud. Barcelona justru membangun tembok 'muslihat' di bidang lawan. Itu dilakukan lewat operan segi tiga sama sisi, sama kaki, siku-siku dan sama indahnya.

Senti demi senti pertahanan dibangun lewat pola dari kaki ke kaki. Umpan terukur yang melenakan sekaligus membingungkan. Sesekali, itu dikatakan sihir bukan sulap. Untuk menegaskan 'kenyataan' dibanding 'tipuan'.

Siapakah Barcelona hari ini?

Jika diibaratkan rumah, maka alasnya masih ada. Tiangnya masih tegak, atapnya belum retak. Hanya saja, dindingnya sudah dimakan rayap. Ia akan terus masuk dalam rumah, melahap perabotan. Hingga, meski rumah dari luar terlihat indah, di dalamnya meninggalkan pemandangan kenestapaan.

Sejak jadi pelatih, Luis Enrique Martinez Garcia memainkan kartu terakhir agar kegemilangan Barca tidak ambruk: pragmatisme. Sebuah metode yang rasa-rasanya salah suntik ke nadi Barca.

Bagi Enrique, Barca tak haram memainkan umpan panjang. Untuk menetralisir anti tiki-taka dari lawan. Dan saya lupa, kapan terakhir Barca memainkannya sebagai senjata.

Untuk itu, ia mau menunggu Luis Suarez lepas dari hukuman. Sejak El Pistolero mengisi lini depan, ia sering terlihat meniup tiga jari kanan sebagai selebrasi. Namun, Barca tetap tersingkir dari arena klub Eropa tahun ini.

Sulit mengatakan Enrique yang akan bertanggung jawab selain masalah kode etik. Prestasinya juga tidak begitu jelek. 'Si Kuping Lebar' diraihnya di tahun pertama melatih.

Tahun ini, Azulgrana adalah tim pertama dalam sejarah yang berhasil membalikkan keadaan dari ketertinggalan empat gol. Itu, data tentang semangat tiada pupus.

Akan tetapi, juga sulit mengatakan: Ini hanyalah tahun buruk yang lain. Bahkan, jika seandainya Lionel Messi dan kawan kawan tak meraih satu pun gelar tahun ini.

Saya tak pernah menyaksikan Pele secara langsung. Maka, bagi saya, Barca adalah sepak bola. Dengan filosofi yang dibangunnya, més que un club (lebih dari sebuah klub).

Mungkin, 'lebih' itu yang sudah hilang. Barca bukan lagi Barca yang menolak sponsor di dadanya. Barca bukan lagi tempat anak-anak La Masia merajut mimpinya.*

Opini lainnya
TOPIK UTAMA
News | Olahraga | Ekonomi Bisnis | Otomotif | Tekno | Gaya Hidup | Hiburan | Kesehatan | Kuliner | Travel | Ragam | Wawancara | Corporate Social Responsibility | Internasional | Nusantara | Ramadhan 1438 H | Kolom | Opini | Foto

FOLLOW COVESIA.COM

facebook icon twitter icon YouTube icon g+ icon rss icon