• Search
  • Menu
Home » Kolom

Kita Pencuri di Rumah Tuhan

oleh: Lindo Karsyah

*Pemerhati

Rabu, 11-02-2015 • 23:07 WIB
Kita Pencuri di Rumah Tuhan

Covesia.com - Seorang sahabat berkata; "Adalah sangat benar yang dikatakan seorang ulama besar Islam almarhum Syekh Muhammad Abduh; aku melihat ada Islam di Barat tapi tak ada kaum muslimin, dan melihat kaum muslimin di Timur tapi tak ada Islam."

Dalam kali makna kalimat yang dilontarkannya. Seperti terjadi kebangkrutan iman yang akut. Degradasi nilai agama tiada ampun dalam diri umat. Rupanya ini bermula dari kasus pencurian kotak infak yang marak di negeri yang penduduknya memproklamirkan diri beragama, beriman dan ber-Tuhan. Jika tidak perempuan yang jadi pelakunya, bapak-bapak yang melakukan aksi pencurian di rumah Tuhan. Jika tidak nenek-nenek, pasti wanita paruh baya.

Tak di kampung kita saja, orang berani memaling uang di rumah ibadah, tempat lain juga begitu. Di Padang marak, di Pulau Jawa mewabah. Provinsi tetangga jangan disebut. Pokoknya rumah Tuhan sudah digerayangi oleh penyamun. Penjahat tergoda dengan onggokan uang yang dalam kotak kaca. Jika tak percaya, searching di google dengan kata kunci 'pencuri kota infak". Menjamur beritanya.

Di Amerika juga orang mencuri. Masyarakat di Negeri 'Uwo Sam' itu juga mengambil hak orang lain. Tapi belum ada terbetik berita, mereka mencuri di gereja atau tempat sembayang lainnya.

Seperti berita terbaru yang dialami Helen Johnson (47). Warga Alabama, Amerika Serikat, yang harus menanggung 2 putri, 1 keponakan dan 2 cucu, terpaksa mencuri 5 butir telur di sebuah supermarket.

Sebagaimana disiarkan oleh media online Tribunnews.com. Helen melakukannya karena dana bantuan Kesejahteraan Sosial sebesar 120 Dolar AS miliknya hilang, sehingga mereka kelaparan selama dua hari.

Walhasil, perbuatan Helen itu diketahui langsung oleh si pemilik supermarket. Meskipun ia sudah langsung mengakui kesalahannya, namun pemilik supermarket tetap memanggil polisi.

Seorang polisi bernama William datang. Usai mendengar kisah si nenek, ia tidak jadi menangkapnya. Malah, ia membelikan satu kotak telur untuk si nenek dan keluarganya.

Jelas, perbuatan polisi itu membuat Helen kaget. Ia bertanya, bagaimana dia harus membalas budi sang polisi. "Cukup dengan tidak mencuri lagi," kata William. Si nenek lalu diantarkan pulang ke rumahnya.

Tak berhenti sampai di situ, William dan rekan kerjanya, tak lama kemudian datang menghadiahkan makanan sebanyak 2 truk ke rumah Helen. Semua makanan itu untuk Helen dan keluarganya, agar bisa melewati malam Natal yang indah.

Helen tersentuh, ia pun menangis. Terakhir kali Helen melihat ada begitu banyak makanan di rumah, sewaktu aku berumur 12 tahun. Saat itu, dia tinggal bersama neneknya. Kisah Helen dan polisi yang baik hati itu tersebar luas. Banyak telepon dari belahan dunia datang, ingin menyumbangkan uang untuk keluarga Hidupnya berubah, semua karena bantuan dari William. Kata terimakasih tidak cukup untuk membalas budinya.

Lantas apa sikap penegak hukum di negeri yang berjibun masalah ini terhadap kasus yang berkadar tipiring? Apa tindakan mereka terhadap pencuri uang di masjid?

Untuk pekara ini, aparat penegak hukum, bak 'layang-layang darek' dapat angin. Bergoyang-goyang badannya membubung ke angkasa. Sampai tegak tali dibuatnya.

Mereka tegakkan aturan setegak-setegaknya. Lebih lurus pula dari berdiri tubuhnya. Betapa pencuri buah coklat harus mendekam di jeruji besi. Pencuri uang infak juga dimasukkan ke hotel prodeo. Maling sandal harus mendekam di tahanan.

Berbeda bukan! Tidak sama kan sikap mereka. Seperti tidak samanya seragam mereka. Hmm…katanya mereka beragama, tapi kenapa ya, kok bisa begitu? Mungkin ini berada pada fase sebagaimana dinukilkan dalam La Tahzan for Teen; Orang-orang celaka yang sesungguhnya hanyalah orang —orang yang mengalami kebangkrutan dalam perbendaharaan keimanannya dan mengalami krisis dalam modal keyakinannya. Hmm…kita bangkrut sobat.

(*/zik)

Kolom lainnya
TOPIK UTAMA
News | Olahraga | Ekonomi Bisnis | Otomotif | Tekno | Gaya Hidup | Hiburan | Kesehatan | Kuliner | Travel | Ragam | Wawancara | Corporate Social Responsibility | Internasional | Nusantara | Ramadhan 1438 H | Kolom | Opini | Foto

FOLLOW COVESIA.COM

facebook icon twitter icon YouTube icon g+ icon rss icon