• Search
  • Menu
Home » Opini

Catatan KABA Festival +3: Cita Menciptakan Festival 'Bintang Enam'

oleh: S Metron Masdison

*Budayawan

Rabu, 23-11-2016 • 09:13 WIB
Catatan KABA Festival +3: Cita Menciptakan Festival 'Bintang Enam'

Ini tulisan dari (orang) dalam. Kesan subjektif tentu menguat. Tak apalah. Tersebab, ukuran sukses atau tidak sebuah iven, juga tergantung dari mana memandang.

Beberapa bagian 'dapur' tentu akan tersibak. Mungkin sampai ke 'ruang tamu' atau 'kamar tidur'. Anggap saja, apa yang tampak, tak mengurangi keindahan langit biru.

***

KABA Festival +3 tak hanya lahir sebagai kelanjutan helat pertama atau kedua. Ia bentuk sikap ingin keberlanjutan. Sekaligus, koloni kebertahanan. Bahkan dalam pidato pembukaan pada 17 November 2016, Ery Mefri, Ketua Dewan Kurator, memutus kaji, "Hanya kiamat yang akan menghentikan festival."

Terkesan sombong dan arogan. Seperti mempetikan nisan, tapi diperlukan. Setidaknya bagi panitia untuk melihat masa depan. Toh, di pertemuan terakhir panitia, 20 November 2016, ia mengatakan kiamat yang dimaksud bisa macam-macam. Termasuk, kalau dirinya maab.

Kalimat itu memang bisa diartikan, tanpa bantuan siapa pun, alek akan tetap berjalan. Pemerintah provinsi silahkan absen. Silahkan hanya memperlihatkan perhatian.

Sudah dua kali festival diadakan dengan sembilan puluh lima persen biaya sendiri. Kami sudah mulai terbiasa.

Namun, di detik terakhir bantuan datang dari pintu lain. Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf) dan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud) RI mengulurkan tangan. Sedikit, tapi amat perlu. Yang patut diingat adalah bantuan itu hanya melemaskan lengan, bukan mengurangi beban di pundak.

Cita-cita memiliki festival 'bintang enam', tetap dijadikan tujuan. Betapa cemburunya kami melihat Darwin Festival di Australia. Warganya hidup setahun dari acara sebulan. Persis Arab Saudi dulu menyandarkan diri dari orang naik haji. Sebelum minyak muncrat dari balik pasir.

Jalan ke sana tentu amatlah panjang. Dari pengalaman di Ubud Writers and Readers Festival, Bali, panitia baru menghembuskan nafas lega pada penyelenggaraan ketujuh.

"Kelamaan," ujar Ery suatu kali.

Ia ingin penyelenggaraan kelima sudah bisa mendatangkan penonton dari luar. Angga Djamar, Direktur Festival hanya mengangguk-anggukkan kepala.

Pada penari dan manajer Nan Jombang Dance Company (NJDC) ini asa memang bisa disandarkan. Jaringannya pada manajer dan direktur program luar negeri membuat KABA Festival terus ditengok.

Dipenyelengaraan terakhir 17-19 November lalu, dua direktur program Esplanade Theatre berkunjung. Tak mudah mendatangkan mereka. Apalagi tanpa ditanggung akomodasi dan transportasi.

Untuk itu, label juga diganti. Dari lokal ke internasional. Namun, perobahan ini hanyalah untuk memudahkan mencari sponsor. Agar penyelenggaraan lebih longgar.

***

Proses bukan kualitas. Itu yang dicari dan dicapai. Setinggi-tingginya. Penampil adalah seniman yang terus berproses dengan kesenian. Syarat mutlak. Tak ada tawar menawar.

Baru tiga kali berjalan, tiga grup (Langkok Grup, Parema Limo Suku dan Orkes La Paloma) memutuskan rehat. Mereka hendak mengisi ulang visi hidup dalam kesenian.

Beda dengan NJDC. Mereka tak tampil karena memupus suara-suara miring bahwa grup lain hanyalah pendamping. Suara-suara 'bodoh' yang volumenya memang mesti dikecilkan dengan perbuatan.

Jadi, hanya dua grup (dengan tiga pementasan) yang berasal dari Komunitas Galombang Minangkabau, penggagas KABA. Keduanya adalah Impessa Dance Company dan Ranah Performing Arts Company.

Selain itu, METAdomus Jakarta, SheliLAB Padangpanjang dan RRCI Pekanbaru bersedia membagi ruang proses mereka pada penonton di Sumatera Barat.

Saya tentu tak mungkin membahas pertunjukan Sandiwara Pekaba. Sebagai Direktur Artistik, belum jadi kebiasaan membaca proses dari dalam. Selalu dianggap angkek talua. Namun, ada kejadian menarik sewaktu drama dendang ini dipentaskan di malam pertama.

Dalam sebuah adegan, seorang penonton bergumam, "Itu Cati."

Pentas 'Cati' dibesut kompatriot saya di Ranah PAC, Pinto Anugrah Datuk Rajo Pangulu. Kami tak hanya 'sekamar' dalam proses tapi juga ide. Mungkin penonton itu melihat latihan Cati baru kemudian menonton pertunjukan Sandiwara Pekaba.

Siapa yang dulu, siapa yang kemudian, biasanya kami serahkan pada waktu. Kami lebih tertarik membincang posttradisi. Sebuah area yang siapa pun bisa jadi 'tuan tanah' di sana.

Impessa menggarap Dendang Tengkorak. Joni Andra sebagai koreografer ingin menebar aroma mistis Minangkabau.

Usai Cati pentas di malam kedua, bau kemenyan menyeruak sampai ke penonton di luar ruangan yang menonton melalui layar. Syahrial 'Tando', musisi METAdomus, berbisik pada saya, "Pemusiknya belum pede."

Terutama bagian akhir. Syahrial ingin sampelong lebih mengigit. Jika terjadi akan lebih padu dengan gerak penari.

Dalam proses, Joni sedikit kelabakan. Penari utamanya mengundurkan diri. Namun, ia punya stok dan terbukti, tak mengecewakan. Ia sempat ketar-ketir, tapi beberapa komentar penonton usai pertunjukan memberi apresiasi lebih pada penarinya yang dianggap 'baru'.

Syahrial sendiri tampil sebagai pembuka KABA. Hening masih jadi menu utama. Ia mengeksplorasi alat-alat musik sedemikian rupa. Rebab tak hanya tergesek tapi berbaku lantun. Genggong dimainkan sekaligus muncul dendang dari mulutnya.

"Dapek-dapek se (eksplorasi bunyi) dek e," ujar Joni Muda, guru SMKN 7 Padang.

Sementara, SherliLAB memperlihatkan dualisme ketubuhan. Konsep perempuan dipindahkan ke (tubuh) laki-laki. Unik dan menarik. Koreografi ini telah lama digarap dan dipentaskan dimana-mana.

KABA ditutup dengan gemerlap. Penampilan RRCI (Riau Rhythm Chambers Indonesia) Pekanbaru tak bisa menahan penonton untuk tidak bertepuk tangan setiap nomor. Suvarnadvipa sudah digarap sejak 2007.

Mereka terus melakukan eksplorasi meski sudah dua kali tampil sebelumnya di Ladang Tari Nan Jombang, tempat KABA dihelat. Svara Jiva digarap ulang. Lebih himne. Lebih sabar untuk tidak terkesan ribut.

Pementasan mereka ditutup dengan The Sound of Svarna Dvipa yang membuat penonton yang sudah sesak sejak malam pertama tak dapat menahan diri memberi tepukan meriah.

***

Apa yang kurang? Banyak.

Misalnya, sejak penyelenggaraan kedua, saya ingin tiap pementasan disiarkan langsung. Agar produser, direktur program, buyers dapat melihat walau tak datang. Namun, kendala teknis masih mendera.

Lalu, media massa. Kami belum bisa merangkul seluruhnya. Mesti ada cara yang lebih efektif. Sempat pula didatangkan wartawan dari Jakarta, tapi ada yang protes. Workshop kritik seni pertunjukan sempat masuk dalam proposal, tapi tak ada pula yang mau membiayai.

Menyenggarakan festival memang seperti menating minyak penuh. Semua harus tepat komposisi. Semua itu terjadi jika kami terus menyelenggarakan dan memperbaiki kesalahan. Semoga. (*)

Opini lainnya
TOPIK UTAMA
News | Olahraga | Ekonomi Bisnis | Otomotif | Tekno | Gaya Hidup | Hiburan | Kesehatan | Kuliner | Travel | Ragam | Wawancara | Corporate Social Responsibility | Internasional | Nusantara | Ramadhan 1438 H | Kolom | Opini | Foto

FOLLOW COVESIA.COM

facebook icon twitter icon YouTube icon g+ icon rss icon