• Search
  • Menu
Di Tangan Setya Novanto, Golkar Miliki 'Segudang' Pekerjaan RumahPakar Politik Universitas Andalas (Unand), Edi Indrizal (Foto: Sosmed)
Home » Berita Wawancara

Pakar Politik Universitas Andalas, Drs.Edi Indrizal, Msi

Di Tangan Setya Novanto, Golkar Miliki 'Segudang' Pekerjaan Rumah

Utari Dwi Rahma S | Selasa, 17-05-2016 | 15:12 WIB

Covesia.com - Setelah lebih dua tahun berada dalam polemik dualisme, akhirnya Partai Golongan Karya (Golkar) bisa mencapai kesepakatan melalui Musyawarah Nasional Luar Biasa (Munaslub) yang digelar di Nusa Dua, Bali 14-17 Mei 2016.

Mantan Ketua DPR RI, Setya Novanto terpilih secara aklamasi sebagai Ketua Umum Golkar setelah peroleh suara terbanyak kedua Ade Komarudin (Akom) mengundurkan diri pada pemilihan Ketum Golkar putaran kedua. Novan sendiri memperoleh 277 suara sedangkan Akom memperoleh 173 suara.

Pada Munaslub ini, Setya Novanto juga menegaskan bahwa partai berlambang beringin ini menyatakan secara resmi keluar dari Koalisi Merah Putih (KMP) dan merapat mendukung Pemerintahan Presiden Joko Widodo dan Jusuf Kalla.

Menanggapi hal tersebut, Pakar Politik Universitas Andalas (Unand), Edi Indrizal menilai perjuangan Golkar ditangan Setya Novanto masih akan lebih berat dikarenakan masalah figur dan integritas Novan yang bisa menjadi celah kelemahan dimata publik. Maka dari itu Golkar harus bekerja ekstra keras untuk mengembalikan kepercayaan publik.

Wartawan Covesia.com, Utari Dwi Rahma Sasmita, berkesempatan mewawancari Drs.Edi Indrizal, Msi, yang juga merupakan Koordinator Wilayah III Lembaga Survei Indonesia ini pada Selasa (17/5/2016). Berikut petikan wawancaranya.

Bagaimana pendapat Anda tentang pelaksanaan Munaslub Partai Golkar? Apakah para kader Golkar telah mampu menurunkan ego masing-masing untuk menyatukan Golkar yang sudah dua tahun lebih ini terpecah?

Munaslub Partai Goltar ini tampak lebih demokratis dan sukses mencapai tujuan besarnya sebagai momentum rekonsiliasi Golkar yang sempat berkonflik berkepanjangan sebelumnya. Munaslub ini lebih terbuka, fair dan diikuti partisipasi stakeholder Golksr secara lebih luas dan lebih nyata.

Hari ini secara resmi Setya Novanto terpilih sebagai ketua Umum (Ketum) Golkar, bagaimana pendapat anda mengenai ini?

Soal hasil ketum yg terpilih tidak lah mengejutkan, sebab secara kittahnya golkar memang lebih suka memilih orang-orang yang dekat dan menjadi bagian pemerintahan. Kemenangan Sernov (Setya Novanto) tidak terlepas dari penggalangan kombinasi yang selaras antara dukungan relasi kuasa di internal dan eksternal Parpol (partai politik).

Baik Ical (Aburizal Bahkrie) sang mantan Ketum maupun Istana sejak semula sama-sama telah memberi sinyal lebih mendukung Setnov ketimbang Akom (Ade Komarudin) dan dua kandidat terkuat di munaslub ini.

Akhir tahun 2014 lalu, publik Indonesia dihebohkan dengan kasus 'Papa minta saham' dan Novan yang menjadi 'aktor utama' kasus ini. Dengan terpilihnya Novan sebagai Ketum Golkar apakah ini akan mempengaruhi kepercayaan masyarakat terhadap Golkar?

Menurut saya ini akan menjadi tantangan di Pemilu (Pemilihan Umum) yang akan datang. Bukan tidak mungkin dibawah kepemimpinan Setnov justru lebih berat dikarenakan masalah figur dan integritas Setnov sendiri yang bisa jadi celah kelemahan di mata publik. Ada sejumlah kontoversi Setnov selama ini sejak orde baru hingga pascareformasi bisa menjadi torehan negarif pucuk pimpinan Partai Golkar ini, terkahir yg masih segar dalam ingatan publik ketika Ia tiba-tiba hadir dlm kampanye Trump di Amerika Serikat dan Kasus Papa minta saham.

Pada Munaslub ini, Ketum terpilih, Novan juga menegaskan bahwa Golkar akan mendukung pemerintahan Presiden Joko widodo - Jusuf Kalla, Apakah dengan menyeberangnya Golkar ke pemerintah akan merubah peta politik Tanah Air?

Hasil Munaslub ini mungkin bagi sebahagian pihak merubah peta konstelasi politik Tanah Air. Padahal sejatinya tidak, secara struktur memang berubah, bahkan KMP semakin gembos, tapi gonjang ganjing politik, menurut Saya masih akan terus saja terjadi dengan meningkatnya tarik menarik kepentingan kekuasaan yang ingin dimonopoli para elit parpol.

Menurut Anda, bagaiaman posisi Golkar ke depannya di pemerintahan setelah menyeberang mendukung pemerintahan?

Tentang Partai Golkar ke depan tentu saja masih dinamis. Merapat ke pemerintahan, meski bermodal suara lebih besar, namun posisi mereka tetap di belakang parpol lainnya yang lebih dulu jadi koalisi Jokowi-JK.

Dengan track record negatif Novan dan sisa-sisa masalah dualisme dalam tubuh Golkar tentu menjadi PR (Pekerjaan Rumah) yang berat untuk Novan. Apakah yang harus dilakukan Dia untuk kembali menjayakan nama Golkar?

Tantangan golkar ke depan jelas lebih berat, upaya melanjutkan konsolidasi menjadi hal penting bagi Setnov dan Golkar. Sebaiknya seluruh potensi dari para kandidat caketum (Calon Ketua Umum) dan Bakacetum (Bakal Calon Ketua Umum), demikian pula tokoh-tokoh dan segenap organisasi sayap harus benar-benar dirangkul berpartisipasi membangun Golkar kembali. Hanya dengan semangat kepemimpinan kolektif dan soliditasnya Golkar bisa bangkit.

(utr)


Munaslub Golkar

Ikuti perkembangan topik berita Munaslub Golkar:
Baca juga
Berita Wawancara lainnya
SUMBAR TERKINI
GALERI FOTO
VIDEO
TOPIK UTAMA
News | Olahraga | Ekonomi Bisnis | Otomotif | Tekno | Gaya Hidup | Hiburan | Kesehatan | Kuliner | Travel | Ragam | Wawancara | Corporate Social Responsibility | Internasional | Nusantara | Ramadhan 1438 H | Kolom | Opini | Foto

FOLLOW COVESIA.COM

facebook icon twitter icon YouTube icon g+ icon rss icon