• Search
  • Menu
Esensi SIMFes dalam Keragaman Musik Etnik DuniaBudayawan Sumatera Barat, Edy Utama. Covesia foto/ Primadoni/ 16
Home » Berita Wawancara

SIMFes 2016

Esensi SIMFes dalam Keragaman Musik Etnik Dunia

Primadoni | Senin, 10-10-2016 | 14:38 WIB

Covesia.com - Sawahlunto Internasional Musik Festival (SIMFes) 2016 di lapangan Segitiga Kota Sawahlunto kembali digelar pada 7-8 Oktober 2016. Kali ini iven itu dibuka oleh Menteri Tenaga Kerja Muhammad Hanif Dhakiri, pada Jumat (7/10/2016) malam.

SIMFes 2016, menampilkan beberapa kelompok musik tradisi dalam dan luar negeri, antara lain kelompok JE Ensamble dari Provinsi Bengkulu yang membawakan musik-musik garapan baru berangkat dari fenomena sosial budaya masyarakat dan dituangkan dalam bentuk komposisi berbasis garapan reinterpretasi tradisi. Sedangkan dari luar negeri salah satunya kelompok "Kingdom of Daykanyama" dari Jepang, akan memainkan musik 'Chordophone.'

Dalam sub kegiatan Simfes 2016 tidak hanya menampilkan kebolehan musik dari skala lokal, nasional maupun internasional. Iven ini juga memamerkan sejumlah produk unggulan UKM seperti, songket dan kerajinan lainnya.

Simfes 2016 telah digelar tujuh kali. Apa esensi dari iven internasional yang lebih menampilkan keragaman musik etnik dari berbagai belahan negara ini?

Berikut wawancara khusus Covesia dengan Kurator SIMFes, Edy Utama.

Bagaimana awal mula SIMFes ini?

Itu pada awalnya gagasan dan ide dari pak Walikota Amran Nur pada 2010. Dia meminta saya untuk merancang musik festival yang bisa menggambarkan tentang musik-musik etnik yang ada di dunia, yang menjadi warisan budaya.

Untuk itu, saya dibantu oleh kurator dari Jerman untuk menghubungi beberapa musisi yang ada di luar sana, terjadilah sampai sekarang SIMFes ini.

SIMFes ini hubungannya dengan upaya pemerintah Kota Sawahlunto lalu, pak Amran Nur yang ingin mengembangkan Kota Sawahlunto itu sebagai salah satu kota wisata sejarah dan budaya.

Apa tujuan utama SIMFes diadakan?

Pada 2010 ide itu muncul, kita ingin ada sebuah festival yang bisa mempertemukan bermacam-macam kelompok musik yang berbasiskan etnik di Sawahlunto ini, kalau bisa mewakili beberapa benua.

Walaupun tidak semua tapi jelas bahwa ada upaya untuk memperkenalkan Sawahlunto atau menjadikan orang-orang dari mancanegara itu sebagai juru bicara, artikulator dari kota Sawahlunto.

Apa langkah yang dilakukan, sehingga musisi dari luar negeri itu bisa menjadi 'Artikulator' bagi promosi Sawahlunto?

Kita di sini mempersiapkan segala suasana yang cukup kondusif dan menyenangkan mereka dan rata-rata semua hampir menjadi duta dari kota Sawahlunto di luar negeri.

Sampai saat ini, kita belum pernah mendengar pernyataan negatif dari mereka tentang pelayanan dan suasana. Kita melihat ini suatu yang menyenangkan untuk mereka.

Dari sisi budaya, apa yang ingin dicapai dari SIMFes?

Sebetulnya kota Sawahlunto ini merupakan kota yang multietnik dan multikultural, masyarakatnya sangat heterogen sehingga ada kesadaran untuk memperkuat, untuk mengembangkan, mem-backup, atau menginspirasi. Bagaimana mengelola sebuah bentuk multimultikultural dan multietnik itu, sehingga dengan itu kita dapat menampilkan bermacam ragam budaya, terutama musik dari bebagai negara dan suku bangsa.

Kita juga berharap ini bisa menginspirasi bahwa keragaman itu adalah sebuah keindahan. Keragaman itu adalah sebuah keunikan peradaban yang bisa dihasilkan oleh manusia di mana saja.

Bagaimana dari sisi musik?

Ini kan sebetulnya sebuah upaya untuk menyeimbangkan serbuan dari budaya pop, budaya massa, yang justru sangat seragam, sangat hegemonis dan sangat konformitas.

Ada banyak di Indonesia perkembangan budaya urban, budaya pop, sehingga semua orang, sama saja menyanyikan suatu musik, "dangdut yaa dangdut semua," (dan contoh lainnya). Kalau itu yang terjadi, menurut saya ini berbahaya sekali untuk perkembangan budaya kita (dalam memahami musik).

SIMFes saya kira, bukan sebuah festival untuk memberi dukungan atau dorongan perkembangan budaya yang bersifat hegemonis seperti itu. Kita justru ingin membuat pilihan lain, bahwa kebudayaan itu, musik atau beradaban itu tidak bisa dilihat dari kaca mata yang seragam seperti itu.

Ini yang membuat kita selalu memilih kelompok-kelompok (musik) yang mempunyai keunikan yang masing-masingnya berbeda.

Dampak seperti apa yang muncul di Sawahlunto sendiri, setelah tujuh kali SIMFes terlaksana?

Pengalaman kita, sampai tujuh kali SIMFes ini, Sawahlunto mulai merasa bahwa dengan adanya SIMFes justru membangkitkan semangat masyarakat pemusik untuk membuat grup musik dengan latar etnik yang beragam yang ada di kota ini.

Beberapa organisasi kesenian, sanggar-sanggar yang bermunculan di sini berbasis budaya, ada yang Jawa, Sunda, Batak, Melayu dan kontemporer.

Itu membuktikan bahwa upaya kita untuk bisa mempromosikan keragaman itu sebagai sebuah realitas, saya kira sudah cukup berhasil diinspirasi oleh SIMfes ini.

Walaupun kadang-kadang tidak semua bentuk-bentuk musik yang ditampilkan itu dipahami, dimengerti, tapi karena musik merupakan bentuk kesenian yang universal, yang bisa dinikmati oleh semua orang, tanpa harus memahami teks yang dinyanyikan. Tapi saya kira itu juga merupakan sebuah kelemahan sekaligus kekuatan bahwa inspirasi dari keragaman yang kita munculkan di SIMFes juga menginspirasi gerakan keseniaan dan budaya di kota ini.

Apakah ada tema khusus dalam SIMFes?

Dari tahun ke tahun, kita memang tidak memilih suatu tema khusus. Cuma untuk tahun ini Pak Walikota Ali Yusuf, mencoba untuk mengangkat musik Country. Hanya saja dari tahun lalu saya sudah mengatakan bahwa Country sebetulnya di Indonesia tidak lagi berkembang, hanya ada satu kelompok, sehingga harus juga diisi dengan kelompok yang lain.

Jadi, apakah bisa dikatakan esensi SIMFes adalah Keberagaman (budaya dan musik)?

Sebetulnya masyarakat kita sangat plural serelanya, ada selera untuk anak muda, untuk perempuan, untuk anak-anak, untuk dewasa, dan untuk orang tua yang zamannya sudah lewat, kalau kemudian ini dipaksa untuk memilih satu selera saja itu juga belum tentu (dinikmati semua orang).

Saya kira, kita harus berpikir lebih 'gado-gado' juga, bahwa penonton kita itu tidak seragam. Saya kira salah satu alasan masyarakat menonton SIMFes karena ingin melihat perbedaan itu. Perbedaan yang mungkin mereka belum kenal dan mereka ingin tahu.

Kita lihat bagaimana masyarakat ingin minta foto bersama, berinteraksi dengan musisi. Apa yang tergambar itu terlihat berbeda sekali dengan apa yang mereka lihat di televisi, ada hubungan yang sangat familiar, terbuka dan ramah. Ini menjadi pengalaman kebudayaan yang saya kira sangat penting di luar panggung SIMFes itu.

Inspirasi apa yang bisa diambil dari SIMFes ini?

Saya sebetulnya orang yang tidak setuju jika ada tema-tema yang dipaksakan sebagai sebuah pilihan. (Justru yang menarik) Bagaimana grup musik dari Afrika, Malaysia yang membawa kembali kebudayaan nenek moyang mereka ke panggung internasional.

Mungkin kita tidak begitu paham, tapi itu dapat menginspirasi bahwa kita harus memelihara atau meneruskan tradisi (musik) yang telah kita miliki.

Saya tidak ingin ada tema khusus yang justru membuat musisi kita hanya sebagai 'imitator', yang mengulang-ngulang budaya (musik) orang lain.

Dan saya, (sebelumnya bersama pak Amran Nur) tidak merancang SIMFes ke arah itu. Ini sebuah sikap kebudayaan saya.

(don/rdk)


Wawancara

Ikuti perkembangan topik berita Wawancara:
Baca juga
Berita Wawancara lainnya
SUMBAR TERKINI
GALERI FOTO
VIDEO
TOPIK UTAMA
News | Olahraga | Ekonomi Bisnis | Otomotif | Tekno | Gaya Hidup | Hiburan | Kesehatan | Kuliner | Travel | Ragam | Wawancara | Corporate Social Responsibility | Internasional | Nusantara | Ramadhan 1438 H | Kolom | Opini | Foto

FOLLOW COVESIA.COM

facebook icon twitter icon YouTube icon g+ icon rss icon